Antares Kehidupan
ANTARES KEHIDUPAN
Hidupku adalah aku, dan aku adalah kehidupanku, entah
mungkin akan sesekali mengingat masa laluku, masa dimana aku tak mengerti apa
itu arti perjalanan, kini harus menceritakan trailer kehidupanku yang cukup
singkat, mungkin bisa saja menceritakan seluruhnya, tapi disini aku akan
mencoba menuangkan semua pikiran masa laluku dan bayang-bayang masa ketika
berada pada saat itu, aku menulis ini dan aku beri judul “ANTARES KEHIDUPAN”,
Antares adalah salah satu bintang terbesar di Alam Semesta ini, sama seperti aku
melihat kehidupan dan perjalananku sampai menuju telos nanti.
Ketikaku membayangkan bintang, terbersit dalam benakku yaitu
cahaya indah dan kekuasaan yang Maha ESA, cahaya indah yang menawan dan
merindangkan mata para pelihatnya seolah-olah terhipnotis dengan pancaran
cahaya terang seakligus redup, ciri dari objek tersebut.
“Hadir dalam kegelapan tapi menghilang dalam benderang,
bukannya takut karena cacian tetapi hanya ingin bertahan dari dari terpaan,
terkadang tak semua orang tahu apa arti Darah Juang tentang kehidupan, tetapi
mengerti apa arti perjuangan dari setiap perjalanan”~Rahman Hakim
Semua orang membayangkan dari prespektive yang berbeda-beda
tetapi dengan objek yang sama, justru itulah kehidupan yang sesungguhnya, hanya
berkata satu tapi memiliki seribu arti dari kata tersebut, bukan hanya untaikan
kata senderhana, tapi kata-kata yang penuh dengan makna.
“Perjuangan bukan hanya tentang perlawanan, perjuangan bukan
hanya tentang mempertahankan dan perjuangan bukan hanya tentang percintaan, tetapi
perjuangan adalah soal yang harus ada dalam kehidupan yang memiliki hati nurani
dari setiap insan kemanusiaan”~Rahman Hakim
Prolog ini mungkin cukup membuat kita semua semakin
penasaran, dengan beberpa kata demi kata yang di tuliskan seolah-olah mewakili
pemikiran para pengelana kehidupan, demi mecapai pencapaian keinginan yang di
dambakan.
Hanya sekeder bercerita berbagi pengalaman dan kegembiraan
bukan untuk menebar kebencian serta kesombongan, ataupun iri dan kedengkian.
Satu
Kelahiran merupakan suatu tanda akan adanya manusia yang
akan berjuang dan hidup sampai akan kembali mati pada saat waktunya, banyak
yang memaknai berbagai macam arti tentang kelahiran, tetapi bagiku kelahiran
itu adalah suatu peristiwa sakral yang perlu di ingat bagi setiap makhluk yang
lahir di dunia ini.
Lahir 03 desember 1999 di kota Jakarta dan kedua orang tuaku
memberi nama aku “Rahman Hakim”, dengan nama belakang “Hakim” yaitu nama ayah,
sama seperti ke empat saudaraku lainnya yang di beri nama belakang ayah, Senang
bisa hadir di dalam keluarga kecil harmonis ini.
“Mah, aku mau Nintendo sama kayak ikiiii... beliin ya ya
ya?” tanya aku kecil sambil merengek
“iya iyaa bulan depan yaaa deekk” jawab mama
Karena aku belum tau apa yang di maksud bulan depan dan aku
pikir bulan depan itu esok, tapi keesokan harinya aku mulai lupa tapi ingat
ketika bermain kerumah ikii, dan ku tanyakan lagi pada mama tersayang.
“Mahh, katanya mamah mau beliin aku Nintendo? Kok belum,
adekan mau main sama temen temen?” rengek rahman kecil
“iyaiyaa besok ya deeek” jawab mamah sambil tersenyum
Sudah beberapa hari, seketika teman teman sudah tidak
memilih bermain nintendo dirumah melainkan main di luar rumah, akhirnya
seketika aku lupa dengan permintaan itu dan tak menanyakan lagi kepada mama,
walaupun akhirnya diriku di belikan Nintendo setalah beberapa hari kemudian
hehehe
.
Rahman kecil memang sangat manja, aku baru sadar ketika aku
besar banyak mainan yang telah di belikian kedua orang tua ku.
Satu keunikan yang mungkin tidak di miliki oleh saudaraku
lainnya yaitu adalah nama panggilan yang sampai sekarang masih populer di
kalangan tetangga maupun teman karib sekolah dulu.
“Mbot” itulah nama
yang paling populer di kalangan tetangga maupun teman sekolah, entah siapa yang
membawa nama ini sampai ke sekolah, tapi ya sudahlah aku pun tidak
mempermasalahkan dengan panggilan itu, lagi pula itu nama cetusan dari bude
ketika kecil aku bertubuh gembrot, “ternyata aku pernah gendut hehehehe.” isi
hati.
DUA
“Penuh dengan impian, sejuta tantangan dan beribu pilihan”
mugkin itu yang mendefinisikan masa-masa remajaku, ketika Sekolah Menengah
Pertama di salah satu sekolah negeri ternama di DKI Jakarta.
Belajar di sekolah ini sangat menyenangkan bagiku dan aku cukup
berperan penting terhadap lingkungan
ini, karena pada masa ini aku sangatlah aktif terhadap beberapa kegiatan di
sekolah ini.
“Man, ikut gua nge MOS( Masa Orientasi Siswa) adik kelas di
sekolah yuk, dari pada di rumah saja?” tanya Iksan,berharap aku mengiyakan
pertanyaanya
“Tapikan gua buka OSIS,
mana boleh gua nge MOS?” Jawab aku
“udah ga apa apa, gua juga bukan OSIS tapi karena ketua
kelas aja jadi kepilih, soalnya tadi di group kita kekurangan panitia jadi
makanya gua ajak lu” balas iksan,sambil meyakinkanku
“hoo gitu, yaudah gua ikut aja deh, tapi nanti lu yang
tanggung jawab ya”? tanyaku
“Iya.. Santai”Jawab iksan
Ada rasa senang sekaligus deg degan, senang karena aku bisa
ikut MOS adik-adik kelas barsama teman-teman OSIS , tapi deg degan karen aku
bukan dari anggota OSIS, tapi seketika rasa deg degan itu menghilang karena
sudah mendapat izin dari pembina OSIS untuk bisa ikutan menjadi Voulentir
membantu teman-teman yang lain.
Sedikit tentang Iksan, tinggi 173 cm dan berat 60 kg, dia
adalah sosok sahabat sekaligus pemberi masukan yang positif untuk perjalanan
ini, orang yang paling aku kenal diantara teman-teman lainnya.
Tak terasa tiga hari Masa Orientasi Siswa sudah selesai, tak
menyangka aku mendapat gelar sebagai kakak OSIS terbaik satu sekolah,
sebenernya agak risih sih yaa, karena aku pada saat itu bukanlah anggota dari
OSIS, jadi seakan akan melangkahi dari
OSIS yang lain, tapi ku rasa mereka tak masalah, karena sebutan itu di dapatkan
berdasarkan vote siswa/siswi baru.
Tentu tak sampai disitu saja, ketika dua bulan kedepan ada
pemilihan ketua OSIS baru untuk menggantikan masa jabatan kepengurusan OSIS
sebelumnya.
“Rahman, kamu mau ya jadi kandidat ketua OSIS, ibu liat kamu
cocok jadi ketua OSIS?” Ibu Ning, guru sekaligus pembina OSIS ku sering panggil
beliau bunda ning.
Entah apa yang aku pikirkan pada saat itu, aku langsung meng
iyakan pertanyaan beliau.
“Iyaa buu, kalau itu mau ibu?(jawabku dengan penuh
keyakinan.
Pada dua tahun ini 2014 s/d 2015 aku cukup menjadi murid
yang berprestasi di bidang olahraga, menjadi murid yang bisa mengharumkan nama
sekolah itu sangat membanggakan untukku.
· Gold Medal
Open Pimda Tapak Suci 2016
· Gold Medal
Kejuaran Pencak Silat Se-DKI Jakarta 2015
· Gold Medal
Championship Nasional 2015
· Silver Medal
Open Jakarta Timur Cup 2015
· Silver Medal
Kejuaran Walikota Cup 2014
· Silver Medal
Kejuaran Pencak Silat Se-DKI Jakarta 2014
· Bronze Medal
Open Pencak Silat Jakarta Timur 2014
· Bronze Medal
Open UNJ Nasional 2014
· Bronze Medal
Kejuaran Pencak Silat Se-DKI Jakarta 2014
Membuatku menjadi terkenal satu sekolah karena namaku sering
sekali di sebut ketika sehabis upacara bendera hari senin karena menyebutkan
prestasi yang ku capai pada saat itu, ketika itu aku cukup dikenal oleh
masyarakat sekolah seperti guru,staf,siswa/siwi, bahkan kepala sekolah.
Aku juga sempat mengikuti lomba yang di adakan sekolah pada
bulan Ramadhan, dan memenangkan lomba MTQ.
Mungkin karena alasan ini semua Bu Ning memilihku sebagai
kandidat calon Ketua OSIS tahun 2014/2015, dalam hati kecil memang ada
keinginan untuk menjadi Ketua OSIS, karena ingin merasakan sensasinya hehehe
(bukan gila hormat yaaaa).
Khalayak
Ada tujuh kandidat Ketua Osis termasuk sahabatku Iksan,
mereka memiliki kelebihan masing masing, memiliki visi misi yang berbeda,
tetapi satu tujuan yaitu memajukan sekolah agar lebih baik kedepannya,
cukup rapih dan tertata, ku susun visi
misi ku dan ku umumkan di khalayak dengan tempo se singkat-singkatnya, ini
cukup membuat hati yang normal menjadi dag dig dug seer hehehe.
Karena sudah terlatih berbicara di organisasiku yaitu
“Pencak Silat Tapak Suci” setiap selesai latihan wajib setiap anggota kultum
(Kuliah Tujuh Menit) setiap harinya, jadi sudah terbiasa dan tak terbata bata
menyampaikan visi misiku, apalagi yang
mendengar itu bukan hanya teman sebaya melainkan guru dan kepala sekolah.
Khalayak sudah banyak mengenal tentang diriku, jadi tak
perlu ku sampaikan berlebih tentang ku, hanya ingin berharap sekaligus
melaksanakan harapan tersebut menjadikan kenyataan yang realistis dan dinamis
di kehidupan berpendidikan.
Kandidat menyampaikan semua pikiran dan program yang akan di
laksanakan pada periode selanjutnya, cukup membuatku terkesan atas pemikiran
para kandidat lainnya, pemikiran dan program yang cemerlang dan harus mereka
laksanakan di agenda kepemimpinanya.
Sudah lewat dua hari masa pemilihan Ketua OSIS, ada kabar
angin bahwa diriku mempunyai suara tertinggi dari kandidat lainnya, tapi itu
belum meyakinka ku karena hanya kabar angin semata, setelah hari ke empat
akhirnya di umumkan bahwa aku terpilih menjadi Ketua OSIS periode 2014/2015
sebagai pemegang suara terbanyak dari tujuh kandidat lainnya.
Entah berapa suara yang aku dapatkan, karena semua hasil
perhitungan hanya para guru yang tahu itu
semua, yang ku tahu, kini aku resmi menjadi Ketua OSIS di SMPN 149
Jakarta, sebelum terpilih ada satu yang ingin sekali aku lakukan di masa
periode kepemimpinan ini, yaitu ingin membuat identitas baru dalam organisasi
ini, identitas yang ku buat yaitu adalah jas Almamater, gagah, elegan, dan melambangkan
kepastian.
Aku tak mengakui diriku ini pintar, tapi aku mengakui bahwa
aku punya kelebihan yang tak semua orang punya, sebab aku selalu bersyukur
kepada Allah SWT terhadap semua yang telah di gariskan untuk setiap hambanya.
Hal yang teringat ketika masa itu adalah karena pada tahun
itu mungkin adalah tahun yang sibuk bagi para guru jadi tak sempat untuk
mengadakan LDKS ( Latihan Dasar
Kepemimpinan Siswa ) alhasil anggota inti OSIS hanya ada 12 orang, tapi aku
pikir aku punya wewenang untuk menambah anggota ku, dan aku izin kepada staf
dan pembina OSIS untuk mengadakan LDKS OSIS yang di adakan dengan seminimalis
mungkin, tanpa merepotkan banyak hal.
Menjadi pempimpin itu tidak mudah yang di bayangkan, tapi
harus penuh dengan keberanian dan tanggung jawab dalam memutuskan suatu
kebijakan, aku sangat butuh orang yang berfikir tenang dan logis, mengingatkan
aku setiap salahnya keputusanku, akhirnya “Iksan”lah yang ku jadikan Wakil
Ketua Osis kedua pada saat itu, karena yang pertama itu berdasarkam vote
terbanyak kedua setelahku yaitu seorang wanita cantik nan anggun bernama “Karina”, yang sekarang berkuliah di
UNPAD.
OSIS memiliki ruang rapat tersendiri, berada di lantai 3 dan
tak semua orang bisa masuk sana sembarangan, kecuali bang Joni ( Petugas Kebersihan
di sekolah ), aku tak selalu menjadi
anak yang selalu baik, rajin belajar, dan taat peraturan hehehe, tapi
aku juga terkadang suka bolos jam pelajaran memanfaatkan kegiatan OSIS dan ber
istirahat di ruang OSIS yeaahh hehehehe...
Setahun waktu berjalan bagaikan debu di tiup angin lalu
menghilang, dan akhirnya ku lepas jabatan ini demi generasi selanjutnya, hal
yang ku khawatirkan pada saat ini adalah ketika aku tak masuk sekolah negeri di
Jakarta, tapi aku berfikir bahwa ada sertifikat berprestasi jadi aku tenang
karena bisa mengajukan itu sebagai syarat masuk negeri, tapi tak sesuai
ekspetasi ku, karena ketelatanku memasukan semua sertifikat ke Suku Dinas
Olahraga, tapi yasudahlah aku hanya berharap dari nilai UN ku, dan
Alhamdulillah aku meraih nilai UN yang cukup untuk bisa masuk Sekolah Negeri
dengan Indeks 33,75.
TIGA
Indeks yang cukup bagus dan aku menetapkan pilihan ku untuk
melanjutkan pendidikan di SMA Negeri 53 Jakarta jurusan MIPA, di sekolah ini
aku belajar banyak sekali yang belum ku ketahui di dalam hidupku, berbagai
pilihan organisasi positif di hadapkan pada siswa/siswi yang baru bergabung di
sekolah ini, mataku tertuju pada PASKIBRA ketika mengkibarkan bendera dengan
penuh kebanggaan dan berjiwa nasionalis, aku ikut serta dalam organisasi ini
tak cukup lama, karena ketika pelantikan, aku memutuskan untuk beranjak dalam
organisasi tersebut.
ketika itu organisasi pramuka sedang membutuhkan anggota
baru dan aku di ikut sertakan oleh teman sekelas untuk ikut dalam organisasi
itu.
Sungguh pengalaman luar biasa bisa mengikuti organisai ini,
entah apa yang membuat teman-teman mempercayakan ku menjadi ketua ambalan
pramuka angkatan 2016, tapi ini adalah hal yang luar biasa.
Pergi keluar sekolah untuk mencari pengalaman baru dan
pandangan hidup baru untuk menjadikan kita semua manusia yang berfikir kritis,
logis dan bertakwa, dua rencana untuk pendakian ke Gunung Halimun Salak, Jawa
Barat dan Gunung Sikunir, Dieng.
Pendakian Gunung Halimun Salak, Jawa Barat.
Pendakian ini menjadi pendakian pertama, 18 orang kita
bersama untuk mendaki Gunung Halimun, dalam rangka meresmikan ambalan yang
diberi nama “Enscofitty” (Ensco Fiftytry). kejadian yang paling membekas dalam
pikiran ku yaitu ada salah satu anggota yang kehilangan kacamatanya.
“Gmna dong kacamata gua hilang??” ujar chika, sambil
menangis
“Serius Chikk?” jawab teman-teman, yang sedang duduk di
balai warung
“Iyaa tadi pas di toilet kacamata gua jatuh terus kebawa air
masuk kedalam selokan” jawab chika dengan kekhawatiran
“ya sudah regu pencoba turun tangan cari kacamata chika!!”
perintah pelatih
Karena pada saat kejadian sekitar jam 8 malam, dan posisi
toilet pas sekali samping sungai yang mengalir deras, jadi kami sedikit kesulitan dengan penerangan
yang ada, tapi ini bukan hal yang menghentikan kami untuk mencari.
“Kak sepertinya kacamataya jatuh ke sungai deh, kami sudah
rogoh rogoh selokan wkkw, aliran selokannya langsung menuju sungai”jawab regu
pencoba sambil tertawa
“ya sudah regu pendobrak turun ke sungai!!”jawab pelatih
Akhirnya regu pendobrak turun tangan, menceburkan dirinya ke
sungai, sungai yang tak terlalu dalam kurang lebih air sungai itu mencapai
betis orang dewasa, masih bersih dan dingin karena lingkungan yang asri.
Setelah 30 menit berlalu tak di sangka di temukan oleh regu
pencoba yang bernama Harris Al Kusyairi, ditemukan di dekat selokan tertumpuk
dengan sampah yang menuju sungai.
Seketika teman-teman bertepuk tangan dan memberi gelar pada
Harris sebagai pahlawan kegelapan cece (Chika) hahaha, setelah kejadian ini kami
bercerita di sepanjang malam, sambil menikmati kopi yang ku pesan pada teteh,
kopi hitam ini mulai kuteguk berharap hati tak merasa kalut dan semangat
pantang surut.
Pendakian Gunung
Sikunir, Dieng, Jawa Tengah.
Pendakian kedua, kini kami letakkan destinasi kami pada
Gunung ini, penuh keberanian, tekad yang bulan, dan rasa penasaran, mungkin
kata itu yang bisa mendefinisikan perjalanan ini.
Pergi dengan persiapan yang apa adanya, tapi tak menyurutkan
rasa keinginan kami untuk pergi ke sana, kami hanya pergi ber empat saja, yaitu
aku, Harris,Hafiz, Hasyir, dan Pelatih Pramuka.
Hari pertama, Sebelum pendakian kami sempatkan untuk
mengalihkan destinasi ke wisata lain, seperti kawah sikidang, telaga warna
,telaga pengilon, dan bahkan kita pergi ke goa semar (tempat konon katanya
sebelum Ir.Soekarno berperang beliau pernah bertapa disana).
Hari kedua, kami bercocok tanam merasakan menanam kentang,
karena makanan khas sana yaitu adalah kentang dieng, sungguh ini mengasikkan,
dan malam harinya kami persiapkan untuk mendaki esok pagi.
Hari ketiga, karena gunung sikunir tidak jauh dari tempat
kami menginap, kami mulai brangkat pukul 05.00 Am, setelah sholat subuh
berjamaah di masjid, airnya yang dingin membuat kami mengigil, karena suhu
disana sekitar 15 derajat celcious.
Membawa peralatan dan semangat yang menggebu gebu kami mulai
mendaki berharap melihat Matari terbit yang tak tertutup kabut yang pekat
ketika sampai di puncak gunung.
Pendakian yang curam membuat kami merasa sedikit takut tapi
tak mematahkan semangat kami untuk melihat keindahan matahari terbit di puncak
sana, langkah demi langakah ku letakkan harapan di pendakian ini.
30 menit waktu berjalan, kami akhirnya sampai di ujung
puncak sikunir, rasa lelah yang kami rasakan kini sudah terbayarkan melihat keindahan
alam yang menawan nan menggetarkan, kami buat secangkir kopi dan meminumnya di
atas puncak untuk menghangatkan tubuh yang kedinginan, kopi pagi ini hangat bercengkerama, menguliti
kisah indah saat dulu bersamanya. (untuk teman-teman yang tidak bisa ikut
pendakian ini, ataupun mantan).
EMPAT
Keberuntungan Atau Kesempatan?
Perjalanan itu sudah terlewatkan, kini kuteruskan dengan
perjalanan yang lainnya, satu dari sekian banyak perjalanan, entah ini
keberuntungan atau kesempatan? aku tak mengerti itu, karena aku selalu saja
diberikan hal yang tak ku sangka sangka.
Teman ku hafiz, teman seperjuangan pendakian, dia adalah
anggota OSIS SMAN 53 Jakarta, meski ku sempat di tawarkan untuk menjadi anggota
tapi aku menolaknya, karena alasan tertentu.
Pada saat itu sekolah butuh empat orang murid untuk di kirim
ke Seminar Klinik Pancasila yang di adakan oleh Kementrian Pertahanan
Indonesia, di daerah Cisarua, Jawa Barat (ketika buming kasus penistaan
Pancasila yang dilakukan oleh seorang penyanyi dangdut).
Dari 500 murid di SMAN 53 Jakarta, entah apa yang membuat
guru menujuk dan mempercayakan seminar itu kepada saya, Hafiz, Rama, dan Dery,
mereka adalah anggota OSIS terkecuali aku, bahkan Dery itu adalah wakil ketua
OSIS.
Tiga hari dua malam kami mengikuti acara tersebut, banyak
ketua dan wakil ketua OSIS Se-DKI Jakarta yang ikut serta dalam kegiatan ini,
sungguh ini keberuntungan atau kesempatan? Aku tak mengerti.
Pada bulan selanjutnya sekolah mengumumkan bahwa KEMENPORA
mengadakan acara besar yang di adakan 3 tahun sekali, yaitu acara Kawah Candra
Dimuka, dan hanya dua orang yang terpilih dari setiap sekolah di Indonesia,
putra dan putri , aku dan Chika (yang sekarang berkuliah di Universitas
Brawijaya) terpilih untuk ikut serta dalam kegiatan tersebut.
Kegiatan yang di adakan 6 hari 5 malam yang bertempat di
Hotel Sugono Djojopuspito daerah Cibubur.
aku pergi kerumah chika dan berpamitan pada ibu chika, dan
beliau berkata:
“Hati-hati ya rahman, jaga chika sampai acara selesai,
kalian kan hanya berdua jadi saling jaga ya”Kata ibu chika
“Iya tante, doakan kami semoga sehat selalu sampai acara
selesai” jawab ku
Pergi ke mobil membawa koper yang berisi baju dan
perlengkapan lainya, dan menaruhnya di bagasi belakang, masuk ke mobil dan
mengucapkan “Assalamualikum tante” ujarku
“Walaikumsalam hati-hati yaaa” Jawab ibu chika
Kegiatan ini membuka wawasan dan pikiranku menjadi lebih
luas, karena disana aku bertemu dengan teman-teman luar daerah, seperti bali,
kalimantan, padang dll, Sungguh ini keberuntungan atau kesempatan?? aku tak
mengerti.
Salah satu alasanku
menolak ikut OSIS karena aku ingin mencoba berproduksi di tempat yang
berbeda, dan aku sempat mecoba ikut casting teater dan lolos menjadi pemain
tetaer dengan peran tertentu, bahkan aku
sempat menjadi Pimpinan Produksi (PIMPRO), mengatur satu event besar untuk di
tampilkan ke ruang publik, belajar bagaimana memproduksi acara yang cukup
besar, melibatkan berbagai sponsor yang terkemuka di Indonesia membuat cara
pandang berfikir semakin luas.
Tentangku menjadi pemain teater ini adalah hal singkat,
karena aku hanya mengikuti dua event saja, selebihnya aku tidak ikut
berproduksi kembali bersama teman-teman, karena alasan tertentu, relasi itu
penting menurutku, jadi tak usah malu untuk berteman dan berkata hai pada orang
di samping mu (bukan modus yaa), karena sesungguhnya manusia itu adalah makhluk
sosial yang harus bersosialisasi di ke realistisan kehidupan.
LIMA
Banyak laki-laki yang suka dengan sepak bola tapi tidak
denganku, aku sedikit berbeda dengan yang lain, karena olahraga yang kugemari
yaitu Pencak Silat, dari SD aku memang sudah suka olahrga ini, bahkan sampai
sekarang aku suka dengan olahraga ini.
Kegemaran ini membuatku memiliki prestasi di bidang
tersebut, di SMA memang tak ada olahraga ini, tapi ada dari kakak kelas baru
mengadakan ekstrakurikuler tersebut, dan aku diminta untuk menggerakan
organisasi ini, selama organisasi ini positif aku dukung.
Aku diminta menjadi angkatan pertama untuk ekstrakurikuler
ini, setelah beberapa hari promosi akhirnya lumayan banyak yang ikut organisasi
ini, entah ini keberuntungan atau kesempatan? Anak-anak mempercayakanku sebagai ketua dari organisasi ini, karena
melihat beberapa prestasi dan pengalamanku sebelumnya di bidang olahrga ini.
Pasti banyak yang bertanya,” bagaimana ngatur itu semua?
Sekolah nya nggk di pikirin? Nilai lu gmna?”
Memang sulit untuk mengatur waktu, jikalau dilakukan dengan
sepenuh hati mungkin itu tak menjadi alasan kalian bertanya itu, toh sudah ada
yang mengatur rezeki di dunia ini.
Masa Transisi.
Meragukan masa depan itu memang hal yang sudah biasa, karena
kita tidak tau akan jadi apa kita pada masa depan nanti, tapi jangan pernah
mengutuk diri kita sendiri tentang keadaan kita, karena menurutku itu adalah
hal yang sia-sia.
Masa SMA menuju kuliah itu sangat membingungkan, karena tak
sedikit remaja yang tak sesuai dengan jurusannya, seolah -olah itu sudah
menjadi paradikma sosial bagi setiap Mahasiswa baru.
Menurutku tak usah khawatir apapun jurusan mu, karena yang
menentukan masa depan mu adalah kamu sendiri, jangan menetapkan garis masa
depanmu pada jurusan, jadikanlah itu sebagai batu loncatan untuk melesat lebih
jauh ke depan.
“Maksud hati ingin menggapai namun tangan tak sampai”. Kata
ini yang mendefinisikan mahasiswa yang belum beruntung atas tujuannya.
“Proses tak menghianati hasil”
pepatah ini membuatku
kecewa karena tak semua orang bisa ada dalam frekuensi pepatah tersebut, tak
semua orang yang telah mengikuti proses tapi tak mencapai hasil yang di
inginkan, terkadang ada anak yang di sekolahnya nakal tapi ketika besar ia
menjadi sukses, tapi ada anak yang rajin belajar dan baik tapi masa depannya
hanya biasa biasa saja.
Aku sangat bersyukur dengan apa yang telah di berikan oleh
Allah SWT, dan berterimaksih atas doa-doa yang telah di panjatkan oleh kedua
orang tuaku, berkat merekalah aku bisa masuk “Politeknik Negeri Jakarta”, entah
ini keberuntungan atau kesempatan??, tapi buatku ini adalah pemberian yang
sudah di gariskan oleh Allah SWT, yang diberikan agar aku menjadi “Antares”
yang besar di luar sana.
Komentar
Posting Komentar